24 Januari 2010

wali perkasa

Masjid Jami’ Wali Perkasa
Tiangnya bertuliskan huruf Ibrani

DESA Pekiringan, Karangmoncol, Purbalingga memiliki nuansa religi dengan masjid tua peninggalan Wali Perkasa. Masjid yang diperkirakan usianya hampir sama dengan Masjid Agung Demak itu dibangun pada tahun 1420, sebagai ajang syi"ar agama Islam di tlatah Purbalingga bagian timur laut.

Lokasi masjid berada sekitar 400 meter dari Kantor Kecamatan Karangmoncol, atau sekitar 10 kilometer dari Kota Purbalingga.

Masjid Jami" Wali Perkasa berdiri megah dengan arsitektur interior yang asli. Keempat tiang penyangganya mirip tiang penyangga Masjid Agung Demak. Imam Besar masjid tersebut, H Sahlan Musodik SPd (50) mengatakan, masjid dengan kapasitas 600 jamaah ini setiap harinya selalu ramai dikunjungi orang dari luar daerah, seperti Jakarta, Jawa Barat, dan lainnya.

Rata-rata mereka berniat untuk lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dengan menenangkan diri di Masjid Wali Perkasa ini. Dilihat dari segi budaya, mereka sangat tertarik dan penasaran dengan salah satu tiang masjid yang bertuliskan huruf Ibrani ratusan tahun silam.

"Banyak yang mencoba mengabadikan (memotret, red) tulisan Ibrani tersebut, namun tidak pernah jadi," ujar Sahlan.

Di belakang masjid nampak teratur bangunan Madrasah Diniyah dengan 261 siswa yang rutin menggunakan masjid sebagai sarana amaliah Ramadan. Mulai dari membaca Alquran hingga berbuka dan sahur bersama. Selain itu, hingga saat ini jamaah masih membludak memadati masjid tersebut.

Bersama Wali Songo
Menurut penulis buku Babad Purbalingga, Triatmo (61), sebenarnya pendiri masjid yaitu Wali Perkasa, dalam sejarahnya masih terkait dengan Onje yang samasama mempunyai masjid tua Onje. Leluhurnya adalah salah satu tokoh penyebar agam Islam di Onje, yaitu Raden Liman Sujana alias Syekh Jambukarang yang hingga saat ini petilasannya di Rembang ramai dijadikan tempat ziarah. Diriwayatkan, sewaktu Masjid Agung Demak berdiri, bangunannya masih miring dan belum menghadap kiblat. Oleh Wali Perkasa atau bernama asli Mahdum beserta para Wali Songo, arah masjid dihadapkan ke kiblat, walaupun bangunan sudah jadi. "Sampai saat ini salah satu tiang di Masjid Wali Perkasa sama bentuknya dengan tiang di Masjid Agung Demak. Karena ikut menegakkan tiang masjid yang miring di Demak, Wali Songo menganugerahkan sebutan nama Wali Perkasa," terang Atmo.

Setelah ikut mendirikan Masjid Agung Demak, Wali Perkasa membangun masjid di Pekiringan, Karangmoncol yang telah mengalami renovasi terakhir tahun 2002 lalu. Sampai saat ini warga sekitar masih meyakini bahwa masjid tersebut berusia hampir sama dengan masjid agung Demak. Menurut rencana dalam waktu dekat masjid tersebut akan direnovasi lagi. Joko Santoso-Tj
wawasandigital.com

syekh jambu karang

Petilasan Syekh Jambukarang
Cikal bakal syiar Islam di Purbalingga

Image
Foto : Joko Santoso
LAYAKNYA makam-makam Wali Songo yang tersebar di Jawa, petilasan atau makam Syekh Jambukarang di Desa Penusupan, Kecamatan Rembang, juga layak menjadi tempat wisata ziarah. Petilasan yang juga disebut Ardilawet ini dikeramatkan oleh warga Purbalingga. Konon petilasan itu menjadi awal dan cikal bakal penyebaran dan syiar Islam di Kabupaten Purbalingga. Tak heran, masyarakat banyak yang mengunjungi untuk menyepi dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Mitos yang berkembang di masyarakat, berdoa di tempat ini akan cepat dikabulkan.

Sejumlah masyarakat dari dalam dan luar kota Purbalingga Banyak yang berkunjung dan berdoa untuk berbagai permohonan di perbukitan Ardilawet ini.

Untuk mencapai lokasi petilasan Ardilawet tidaklah sulit. Meski lokasinya jauh di pelosok desa, namun prasarana jalan menuju tempat itu sudah lumayan halus. Jika harus menggunakan kendaraan umum, lokasi ini berjarak sekitar 20 kilometer dari kota Purbalingga. Jika menumpang mikrobus jurusan Bobotsari-Rembang, hanya membutuhkan waktu sekitar 30-45 menit.

Sesampai di Monumen Panglima Besar Jenderal Soedirman, turun dan naiklah pikup ke Desa Penusupan dengan jarak tempuh sekitar 4 kilometer. Sesampai di Desa Penusupan, pengunjung harus berjalan kaki menempuh jalan setapak kurang lebih 3 kilometer untuk sampai di Gerbang Petilasan Ardi-lawet.

Konon, petilasan Ardilawet merupakan makam Syekh Jambukarang. Syekh Jambukarang ini merupakan putra dari Prabu Brawijaya Mahesa Trademan, Raja Pajajaran. Semasa kecil ia bernama Adipati Mendang (RMundingwangi). Sebenarnya, ia berhak menduduki tahta kerajaan menggantikan orang tuanya. Namun, Jambukarang lebih memilih menjadi pendeta. Tahta kerajaan diberikan kepada adiknya, R Mundingsari yang dinobatkan pada tahun 1190.

Cahaya
Saat bertapa di Jambudipa atau Gunung Karang, Banten, ia melihat ada tiga cahaya dari arah timur yang menjulang tinggi ke angkasa. Melihat hal itu, Jambukarang bersama para pengikutnya menuju cahaya terebut hingga sampailah di perbukitan Ardilawet itu dan mendirikan pertapaan di sana.

Secara bersamaan, Syekh Atas Angin dari Negara Arab dan telah berkelana menyebarkan Islam di Purbalingga juga melihat adanya cahaya yang sama dari arah timur. Cahaya itu terlihat jelas sesaat setelah ia melaksanakan shalat Subuh.

Singkat cerita, Syekh Atas Angin juga menuju ke perbukitan Ardilawet. Di sana, ia berjumpa dengan Jambukarang yang sedang bertapa. Uluk salam disampaikan oleh Syekh Atas Angin kepada Jambukarang. Namun, Jambukarang tak menyahutnya.

Tak lama kemudian, Jambukarang terlibat perdebatan dengan Syekh Atas Angin.. Mereka juga terlibat adu kesaktian. Namun, Syekh Atas Angin memiliki kesaktian yang lebih tinggi sehingga Jambukarang tunduk dan memeluk Islam. Saat itu, Jambukarang mencukur rambut dan kukunya dan dikuburkan di Ardilawet.

Selain mengangkat Syekh Atas Angin menjadi gurunya, Pangeran Wali Syekh Jambukarang juga menikahkan putrinya yang bernama Rubiah Bekti menjadi istri Syekh Atas Angin. Setelah memeluk Islam, Syekh Jambukarang aktif menyebarluaskan ajaran Islam di wilayah Purbalingga.

Perkawinan antara Syekh Atas Angin dan Rubiah Bekti menurunkan lima orang anak masing-masing, Machdum Kusen, Machdum Medem, Machdum Umar, Nyi Rubiah Raja dan Nyi Rubiyah Sekar. Putra pertama, Machdum Khusen menurunkan tiga ptra yaitu Machdum Jamil, Lebe Tuleng, dan Lebe Shultoni.

Machdum Jamil ini menurunkan empat putra yaitu Machdum Tores, Lebe Kudra, Lebe Majapan dan Pangeran Wali Prakosa. Pangeran Wali Prakosa inilah yang ikut serta mendirikan tiang Masjid Demak bersama Walisongo. Setelah wafat, Wali Prakosa ini dimakamkan di Desa Pekiringan, Kecamatan Karangmoncol.
www.wawasandigital.com

Desa Wisata

Desa wisata Karang Banjar Purbalingga PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Mutiara
Rabu, 15 Juli 2009 14:14

Musik Tradisional

Musik Tradisional
Di Purbalingga, tepatnya di Desa Wisata Karang Banjar merupakan salah satu tujuan wisata yang sering dikunjungi wisatawan, baik lokal maupun manca negara. Letaknya juga sangat strategis, karena tepat sejalur dengan obyek wisata andalan lainnya seperti Owabong, Taman , Taman Buah dan Museum Uang.

Di desa Wisata Karang Banjar ini, pengunjung dapat melihat secara langsung ke home industri proses pembuatan rambut palsu, bulu mata palsu, sapu lidi, sapu ijuk, sanggul.

Ada juga fasilitas ‘homestay’ di rumah penduduk dengan biaya yang sangat terjangkau. Suasana pesedaan yang sejuk, makanan khas daerah setempat, penduduk yang ramah membuat suasana yang semakin nyaman.

Jika ingin mengunjungi desa wisata ini, kita dapat mengambil paket wisata ataupun berkunjung langsung ke sana.

Paket Wisata yang tersedia antara lain :

Home industri pembuatan wig

Membuat wig
Penyambutan Tamu di Gedung Pertemuan Desa Wisata Karang Banjar, sambil menikmati sajian makanan tradisional seperti mendoan, kacang rebus, jagung rebus kita dapat menyaksikan pertunjukan tradisional khas Purbalingga, yang dimainkan oleh para penduduk desa tersebut. Setelah itu menuju homestay, menuju ke lokasi pembuatan rambut palsu, sanggul, sapu. Lalu hari berikutnya berkunjung ke Taman Reptil, Museum Uang, Taman Buah sambil berolahraga pagi.

Jika anda ingin liburan yang berbeda dengan lainnya, paket wisata ini sangat menarik bagi anda, karena selain menikmati liburan, banyak unsur edukatif yang bisa diperoleh anak-anak dan biayanyapun terjangkau (tidak harus menginap di hotel).
www.inyonge.com

owabong

Owabong, Wisata Air Unggulan Purbalingga Print E-mail
Sabtu, 15 September 2007

Purbalingga (Kedaultan Rakyat). Ke Purbalingga, tidak mampir ke Owabong, rugi besar !" kata Siti Solikah, penduduk setempat yang juga bekerja di Puskesmas Padamara Purbalingga mengingatkan KR. Memang di celah kunjungan KKN Rektor ISI Yogyakarta, Soeprapto Soedjono PhD di Purbalingga ada rencana 'mencicipi' Owabong. Kunjungan saat itu memang istimewa diantar langsung oleh Bupati Purbalingga Drs Triyono Budi Sasongko MSi. "Nanti, kalau waktu memungkinkan, setelah di Kecamatan Padamara dan Karangbanjar, saya antar khusus mampir di Owabong," ucap Triyono spontan.

Benar, di celah waktu yang sebenarnya sangat sempit, Buputi Purbalingga Triyono mengajak berkeliling di Owabong. Ternyata Owabong itu padanan kata Objek Wisata Air Bojongsari, terletak di Jalan Raya Owabong 1, Bojongsari Purbalingga. "Kalau disingkat Owabong, kesannya keren dan bergengsi," kata Triyono. Dikatakan Triyono, Owabong diresmikan Gubernur Jawa Tengah, H Mardiyanto, Jumat, 18 Maret 2005 tersebut, kini memang menjadi wisata air unggulan di Purbalingga. Hampir semua pejabat penting ke Purbalingga selalu diajak mampir sebentar di Owabong. "Saya punya kewajiban untuk memperkenalkan diri potensi Purbalingga," tandasnya.

Menurut pemahaman Triyono, Purbalingga itu kabupaten yang kecil. Luas wilayah Purbalingga 77.764 hektar, setara 2,39 persen dari luas Propinsi Jawa Tengah. Terdiri dari 18 wilayah kecamatan, 224 desa dan 15 kelurahan. Secara geografi dan administratif, Purbalingga berbatasan dengan wilayah Kabupaten Pemalang di sebelah utara, wilayah Kabupaten Banjarnegara di sebelah timur, wilayah Banyumas di sebelah selatan dan barat. Jarak tempuh menuju Purbalingga dari Semarang sebagai ibukota propinsi Jawa Tengah berkisar 180 km, waktu tempuh sekitar 4 jam.

Diakui, meski sebagai kabupaten yang kecil, tetapi memiliki daya tarik dan keunikan tersendiri. "Banyak orang datang sekali ke Purbalingga ingin berkunjung lagi," kata Triyono. Daya tarik itu, selain potensi wisata, seni, budaya yang memang eksotik untuk dikunjungi. "Owabong, salah satunya yang kini banyak orang menjadi penasaran," tambahnya. Benarkan Hartanto, pengelola Owabong yang menemani bupati, wisata dari luar kota banyak mengalir ke objek wisata Owabong. "Bahkan pengunjung dari Solo, Semarang, Jakarta karena Owabong punya fasilitas VIP Cottage, Family Cottage akhirnya menginap di sini," kata Hartanto. Owabong memiliki beragam fasilitas permainan air, antara lain, see saw (jungkat-jungkit air, callage water slide (undak-undakan Spayolan), baban boat, sepeda air, kayak, water boom, pesta air, kolam arus, ember tumpah.

Soeprapto Soedjono PhD, Rektor ISI Yogya mengatakan, meski telah menjadi tempat wisata unggulan, pengelolaan, pemeliharaan dan kenyamanan perlu dijaga. "Tak ketinggalan, jangan lupa sentuhan seni, kalau perlu di pintu masuk ada atraksi kesenian tradisi khas Purbalingga." tandasnya. (Jay)-

Purbalingga

Geografi

Purbalingga berada di cekungan yang diapit beberapa rangkaian pegunungan. Di sebelah utara merupakan rangkaian pegunungan (Gunung Slamet dan Dataran Tinggi Dieng). Bagian selatan merupakan Depresi Serayu, yang dialiri dua sungai besar Kali Serayu dan anak sungainya, Kali Pekacangan. Ibukota Kabupaten Purbalingga berada di bagian barat wilayah kabupaten, sekitar 21 km sebelah timur Purwokerto.
[sunting] Pembagian administratif

Kabupaten Purbalingga terdiri atas 18 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah desa dan kelurahan. Pusat pemerintahan berada di Kecamatan Purbalingga.
[sunting] Industri

Di Purbalingga ada banyak industri dengan bahan baku rambut manusia untuk dijadikan bulu mata palsu (eye-lash) atau juga dibuat "wig" atau rambut palsu serta sanggul maupun hair piece yang dipasang untuk memberikan tambahan rambut atau juga high-light secara temporer di rambut kita. Keistimewaan lain adalah industri knalpot yang merupakan transformasi dari industri kuali dan panci tembaga. Knalpot Braling cukup terkenal di kalangan pemilik mobil, sbg alternatif suku cadang murah.
[sunting] Pariwisata

Wisata alam yang terdapat di kabupaten ini adalah 'Gua Lawa' yang terletak di Kecamatan Karangreja, 25 km sebelah utara Purbalingga. Obyek wisata lainnya adalah Desa Wisata Karangbanjar, yakni permukiman tradisional yang juga terdapat kerajinan rumah tangga; dan Monumen Jenderal Soedirman di Kecamatan Rembang.

Objek wisata air Bojongsari (Owabong) juga merupakan objek wisata favorit. Saat ini ada banyak arena bermain yang melengkapi Owabong ini. Di samping kolam renang juga ada kolam arus, arena go-kart, water boom, arung jeram, permainan air dan sebagainya. Benar-benar suatu tempat yang layak kunjung.

Pendakian Gunung Slamet dapat dimulai dari Pos Bambangan, Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja. Rute ini termasuk rute paling populer.
[sunting] Kuliner

Makanan yang paling dikenal di Purbalingga adalah "mendoan"; ini adalah makanan yang dibuat dari tempe kedele. Istimewanya, pembuatan mendoan diproses mulai dari saat membuat tempenya; jadi mendoan tak bisa dibuat dari sembarang tempe. Tempe mendoan adalah tempe tipis yang dibuat melebar/meluas. Untuk membuat mendoan, tempe ini di beri tepung yang dibumbu garam, ketumbar dan daun bawang. Digoreng sebentar sehingga masih terasa lunak, bila digoreng agak lama akan menjadi tempe "muledi" yang sedikit agak liat. Lebih lama lagi sampai kering maka disebut tempe "keripik".

Purbalingga juga dikenal sebagai tempat pabrik Slamet, yang memproduksi permen "Davos" sejak tahun 1931, permen ini sangat dikenal sejak zaman dulu. Sroto (di Purbalingga, soto disebut sroto, entah kenapa) juga terkenal, terutama soto kriyiknya. Di sini setelah daging ayam disuwir untuk sroto maka "rongkong"nya (tulang dada)digoreng kering dan disajikan sebagai lauk sroto. Rasanya garing dan kriyik-kriyik, itu sebabnya disebut sroto kriyik. Rasanya, wah ok punya. Ada lagi, makanan camilan yang disebut nopia, asalnya juga dari Purbalingga, sekitar tahun 50 an keluarga Ting Lie Liang memulai usaha bikin penganan nopia yang juga disebut telor gajah. Bantuknya putih dari tepung terigu berisi gula jawa. Sekarang nopia yang lebih dikenal adalah buatan pak Narwan dari Banyumas. Pak Narwan ini adalah mantan karyawan dari pabrik nopia original di Puirbalingga.
[sunting] Tokoh terkenal

* Jenderal Soedirman, jenderal besar pertama di Indonesia. Legenda dalam dunia militer Indonesia, pakar perang gerilya dan terkenal gigih dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
di ambil dari wikipedia.org

mitos purbalingga

Legenda Raden Kamandaka dikenal ora mung nang daerah Banyumasan, legenda kiye uga dikenal nang tanah Sunda. Legenda kiye uga biasane diarani legenda Lutung Kasarung.

Raden Kamandaka jane dudu jeneng asli, jeneng asline jane Banyak Cotro, dheweke kuwe salah siji putra Prabu Dewa Niskala, Raja Kerajaan Pajajaran (Kawali).
[sunting] Kerajaan Pajajaran (Kawali)

Gemiyen nang tanah Jawa bagian kulon ana Kerajaan sing amba tur kuat, kerajaan kiye termasuk kerajaan Hindu lan duwe pengaruh nganti daerah Jawa Tengah. Jeneng kerajaan kiye yakuwe Kerajaan Pajajaran. Raja Pajajaran kuwe nduwe putra loro sekang permaisuri pertama, sing mbarep jenenge Banyak Cotro, adine jenenge Banyak Ngampar, ningen putra mahkota kiye wis ditinggal ibune dong esih cilik-cilik.

Bar ditinggal permaisurine, Raja Pajajaran kawin maning karo Dewi Kumudaningsih lantes nduwe putra jenenge Banyak Blabur karo putri sing jenenge Dyah Ayu Ratu Pamekas. Dong dipersunting dadi permaisuri, Dewi Kumudaningsih ngaweh persyaratan sing monine: ”Angger mengko nduwe putra lanang, sing ngganti dadi Raja Pajajaran yakuwe putra lanange kuwe”.

Sebagai Raja sing bijaksana, Prabu Dewa Niskala kepengin nek sing ngganteni dheweke dadi Raja mengko kudu diangkat sedurunge dheweke meninggal ben tahta kerajaan kuwe ora dadi rebutan putra-putri keturunane. Prabu Dewa Niskala pancen duwe akeh keturunan, salah sijine jenenge Dyah Ayu Ratu Pamekas utawa Ratna Ayu Kirana (putri bontot) sing dijodohna karo Raden Baribin. Raden Baribin kuwe kerabat istana Majapahit, dheweke ramane Raden Banyak Sasro, Raden Banyak Sasro kuwe ramane Raden Joko Kahiman.

Kerasa umure wis lanjut, Raja Pajajaran duwe rencana ngangkat putra mahkota nggo calon Raja anyar mengko. Raja lantes ngundang putra putra pertamane, Banyak Cotro sekang permaisuri pertama, karo Banyak Blabur sekang permaisuri kelorone kanggo ngadep sang Prabu, maksude kuwe Raja arep ngangkat salah siji putra mbarepe kuwe nggo dadi Raja Pajajaran.

Ndilalah keloro putra-putrane kuwe langka sing gelem diangkat dadi raja, masing-masing ngerasa urung siap lan masing-masing ngaweh werna-werna alesan. Banyak Cotro mengajokna alesan-alesan antarane: Urung siap merentah Kerajaan merga dheweke ngerasa elmune urung cukup, alesan liyane jere dadi raja kuwe kudu nduwe permaisuri ndisit nggo dadi pendamping, mulane dheweke arep nggolet calon permaisuri ndisit sing cocog. Cocog kuwe maksude sing raine juga ayune kudu mirip karo raine ibune. Mengko angger wis kawin karo putri sing mirip ibune tembe dheweke gelem diangkat dadi Raja Pajajaran. Bar kuwe Banyak Cotro njaluk ijin lunga ming ramane nggo nggolet putri idamane.
[sunting] Banyak Cotro Dadi Raden Kamandaka

Banyak Cotro mangkat sekang Keraton Kerajaan ming arah wetan, ngeliwati Gunung Tangkuban Perahu, nang gunung kuwe dheweke ngadep pendeta Hindu sing agi mertapa nang kana. Pendeta kuwe jenenge Ki Ajar Winarong, kiye Pendeta sing sekti mandraguna, nduwe ilmu Kanuragan sing duwur lan paham nek mengko suatu saat Banyak Cotro mesthi berhasil mempersunting putri sing di idam-idamana, ningen asal bisa menuhi syarat-syarat sing antarane: Banyak Cotro kudu bisa ngelepas lan ninggalna kabeh pakaian kebesaran sekang Kerajaan, lan urip sebagai rakyat biasa. Syarat liyane: Banyak Cotro kudu ganti jeneng lan menyamar nganggo jeneng samaran Raden Kamandaka.

Raden Kamandaka terus mlaku ming arah wetan, akhire tekan ming wilayah Kadipaten Pasir Luhur.

Mbuh kepriwe critane akhire Raden Kamandaka bisa ketemu karo Patih Kadipaten Pasir Luhur sing jenenge Patih Reksonoto. Patih kiye mandan seneng karo perilaku Raden Kamandaka, kebeneran maning, dheweke ora nduwe putra. Akhire Raden Kamandaka diangkat dadi anak. Patih Reksonoto seneng pisan tur bangga, siki dheweke wis nduwe anak angkat sing gagah perkasa, ganteng lan nduwe perilaku apik. Raden Kamandaka disayang banget karo ayah angkate.

Sementara kuwe nang Istana Kadipaten Pasir Luhur, sing merentah sebagai Adipati yakuwe Adipati Kandandoho, dheweke nduwe putri-putri sing ayu-ayu lan wis kawin kecuali sing bontot, sing jenenge Dewi Ciptoroso. Ndilalah putri bontot Adipati kiye nduwe rupa sing mirip banget karo ibune Raden Kamandaka. Sebagai putra Patih Reksonoto, Raden Kamandaka jelas wis melebu nang lingkaran Istana Kadipaten Pasir Luhur uga wis bola-bali ndeleng Dewi Ciptoroso. Raden Kamandaka yakin pisan nek Dewi Ciptoroso kuwe putri sing diidam-idamna.
[sunting] Raden Kamandaka Ketemu Dewi Ciptoroso

Wis dadi tradisi nang Kadipaten Pasir Luhur, saben tauh nganakna upacara mancing iwak nang kali Logawa. Nang upacara kiye kabeh keluarga istana Kadipaten, pembesar, pejabat pemerentahan melu mancing nang kali Logawa. Sebagai Patih Kadipaten, Patih Reksonoto juga melu upacara kuwe. Raden Kamandaka ora nyia-nyiaken kesempatan, dheweke juga melu. Kiye kesempatan ketemu karo Dewi Ciptoroso. Nang pertemuan kiyelah rasa tresna Dewi Ciptoroso lan Raden Kamandaka tumbuh.

Dina ganti dina purnama ganti purnama, Dewi Ciptoroso wis bener-bener jatuh hati karo Raden Kamandaka. Dheweke mohon banget karo jantung hatine angger saben mbengi marani dheweke nang taman Keputren Istana Kadipaten. Jane kiye masalah tabu lan saru, ningen Dewi Ciptoroso wis dimabuk kepayang. Ndilalah pas mbengi sing apes banget, ora sengaja pertemuan rahasia kiye konangan karo prajurit pengawal Keputren. Raden Kamandaka diarani maling sing arep nyolong nang Keputren, prajurit langsung lapor ming atasane, akhire laporan kiye tekan juga ming Adipati Kandandoho, Istana Kadipaten dadi geger. Adipati murka lan merentahaken kabeh prajurit nangkap maling kuwe. Penangkepan maling kiye gagal merga Ilmu Kanuragan Raden Kamandaka lewih duwur dibanding pengawal-pengawal Istana Kadipaten, Raden Kamandaka lolos.

Sedurunge tarung lawan pengawal-pengawal Istana, Raden Kamandaka wis berusaha ngandani nek dheweke dudu maling, dheweke kiye putra Patih Reksonoto. Kejujuran Raden Kamandaka kiye malah dadi kesalahane sebab ora patut dheweke ana nang Keputren Istana. Pimpinan prajurit langsung lapor ming Adipati nek maling kuwe jebule putrane Patih Kadipaten Pasir Luhur. Patih Reksonoto akhire depanggil Adipati lan diperentah nyerahaken putrane nggo nerima hukuman. Patih Reksonoto manut ningen atine abot banget, akhire Patih ngatur siasat ben putrane bisa lolos sekang hukuman. Nganggo kesekten elmu kanuragane, Raden Kamandaka bisa luput sekang pengepungan prajurit.

Raden Kamandaka lumpat nyebur ming kali terus nyilem melu arus banyu kali. Prajurit Kadipaten nyebar nyusuri kali, ngenteni Raden Kamandaka nylongob ning wis suwe pisan, Raden Kamandaka ora muncul juga. Patih Reksonoto juga api-apine melu nggolet. Akhire kumandan prajurit-prajurit bali ming Istana Kadipaten terus lapor maring Adipati nek Raden Kamandaka wis tewas nang kali. Adipati ngerasa lega ning putrine Dewi Ciptoroso sewalike, dheweke sedih ngrasa nelangsa pisan, jantung hatine wis ora nana.
[sunting] Raden Kamandaka Mengembara

Raden Kamandaka metu sekang kali. Dheweke terus mlaku ngetutna ilening kali nganti akhire ketemu karo wong lagi mancing, sing jenenge Rekajaya. Ringkesing crita, Rekajaya akhire dadi kancane Raden Kamandaka. Dheweke uga netep lan manggon nang desa Panagih, desane Rekajaya. Nang desa Panagih, Raden Kamandaka dadi anak angkate randha mlarat sing jenenge mbok Kektosuro. Nang desa kuwe, Raden Kamandaka dadi tukang adu ayam jago, kebeneran pisan mbok Kektosuro duwe ayam jago sing jenenge Mercu. Saben adu ayam, Raden Kamandaka mesthi menang, akhire dheweke dikenal sebagai botoh ayam.

Crita botoh ayam sekang desa Penagih kiye akhire keprungu tekan Istana Kadipaten Pasir Luhur, krungu nek botoh kuwe jenenge Kamandaka, Adipati murka, dheweke langsung aweh perentah ming prajurit kon nangkep Raden Kamandaka urip utawa mati.

Dong Istana lagi ribut-ribut perkara nangkep Raden Kamandaka sing lumayan sekti kuwe, ndilalah ijig-ijig teka nom-nom an ngganteng sing ketone duwe ilmu kanuragan sing lumayan dhuwur, dheweke ngaku nek jenenge Silihwarni lan kepengin ngabdi nang Kadipaten Pasir Luhur. Bar diuji, Adipati nerima permohonan Silihwarni ning syarate, Silihwarni kudu nyekel terus mateni Raden Kamandaka, lan nggawa getih karo ati-ne Raden Kamandaka ming Istana, Silihwarni nyanggupi. Silihwarni jane dudu jeneng asline, jenenge asline dheweke Banyak Ngampar sekang Istana [Kerajaan Pajajaran], Banyak Ngampar kuwe sedulur lanang (kakang cer)sing jenenge Banyak Cotro utawa Raden Kamandaka.

Silihwarni jane lagi ngemban prentah sekang Ramane Prabu Dewa Niskala, prentahe yakuwe nggoleti kakange sing wis suwe ora nana kabare. Silihwarni disangoni senjata pusaka Keris Kujang Pamungkas. Dheweke nyaru dadi rakyat biasa. Nang perjalanan dheweke krungu nek Banyak Cotro kakange kuwe lunga ming arah Kadipaten Pasir Luhur.

Bar nrima prentah Adipati Kandandoho, Silihwarni mangkat nggawa prajurit karo anjing pelacak, araeh ialah ming desa Karanglewas. Desa kiye pancen dadi pusat adu ayam.
[sunting] Raden Kamandaka Lawan Silihwarni

Nang desa Karanglewas, Silihwarni karo Raden Kamandaka ketemu ning masing-masing wis ora kenal, masing-masing wis kelalen karo rupa sedulure. Silihwarni nganggo kelambi biasa sementara Raden Kamandaka nganggo kelambi botoh ayam.

Adu ayam jago antara ayam Silihwarni karo Mercu (ayam nduweke Raden Kamandaka) seru pisan, ningen merga ketone akeh wong sing tampang lan rupane mandan asing lan ora biasa, penonton sing maune akeh siji-siji lunga, ndeyan wedhi mbokan mengko ana kedaden sing ora bener. Raden Kamandaka dhewek ora sadar nek dheweke siki wis dikepung prajurit Kadipaten. Tiba-tiba isyarat perentah nyerang sekang Silihwarni keton, prajurit-prajurit langsung nyerang Raden Kamandaka dipimpin Silihwarni. Adu Ilmu Kanuragan antara Silihwarni lawan Raden Kamandaka jane bisa seru ning merga Raden Kamandaka kaget, Silihwarni brasil nancepaken Keris Kujang Pamungkas ming pinggang Raden Kamandaka. Raden Kamandaka tetep ngelawan, arena tarung ngantek pindah nang desa liya. Nang desa kuwe, Raden Kamandaka ngerasa getieh wis metu akeh, kuwe marakna awake mandan lemes, akhire mbuh nganggo ilmu apa, Raden Kamandaka brasil ngilang lolos sekang keroyokan pasukan Kadipaten. Desa kuwe dijenengi desa Brobosan.

Silihwarni karo prajurite terus brusaha nggolet jejak Raden Kamandaka, sementara Raden Kamandaka dhewek ngrasa awake wis kesel pisan, dheweke leren sedela, enggon dong Raden Kamandaka leren kuwe dijenengi desa Bancran.

Dituntun anjing pelacake, Silihwarni karo prajurite terus ngejar, malah Raden Kamandaka brasil nangkep salah siji anjing pelacak Kadipaten, enggon kuwe siki jenenge desa Karanganjing.
[sunting] Raden Kamandaka nang Goa Jatijajar

Raden Kamandaka terus mlayu ming arah wetan ngantek akhire tekan ming ujung dalan sing buntu, enggon kuwe dijenengi desa Buntu. Raden Kamandaka terus mlebu alas ngatek akhire nemoni Goa, dheweke terus mlebu nang goa kuwe. Bar nempuh perjalanan lumangyan adoh, Raden Kamandaka leren nang jero goa.

Sementara kuwe Silihwarni karo prajurite terus ngejar debantu anjing pelacake, ngantek akhire anjing kuwe mandeg nang ngarep goa. Silihwarni yakin banget nek buruane mesthi ana nang jero goa, sambi ngorong-ngorong Silihwarni nantang Raden Kamandaka. ”Hei Kamandaka, angger kowe ngerasa jago metu ngeneh !, arep tarung pirang jurus bae tek ladeni, apa perlu nyong sing mlebu heh !” jere Silihwarni.

Sekang mulut goa metu suara mandan medeni, ”Sih !!! nyong kiye putra mahkota sejati Pajajaran, ora bakalan wedhi ora !”. Dong nyebut ”sejati Pajajaran” Raden Kamandaka ngetokna sisa-sisa tenaga dalame, kuwe marakna suarane menggema nang endi-endi, prajurit-prajurit Kadipaten sing ngawasi sekang adoh juga krungu ning suarane wis ora utuh apamaning kabeh prajurit kuwe padha nutup kuping merga ora kuat nahan serangan Tenaga Dalam sing metu sekang suara kuwe, suara Raden Kamandaka kuwe bener-bener marakna budeg. Sing krungu nang prajurit-prajurit kuwe mung suara gema thok, ”jati jajar...jati jajar...jati jajar...” kaya kuwe, mulane Goa kuwe dijenengi Goa Jatijajar.

Krungu Raden Kamandaka nyebut-nyebut jeneng Kerajaan Pajajaran, Silihwarni kaget, dheweke langsung takon ”Apa ko sekang Pajajaran juga ?”, Raden Kamandaka njawab ”Iya, lha rika sapa ?”. Silihwarni ora langsung njawab, dheweke mbathin ”kiye meshti kakangku”. Lantes Silihwarni lumpat mlebu goa. Nang jero goa Silihwarni mbukak rahasia, ”Inyong Banyak Ngampar, apa rika Banyak Cotro ?”. Akhire putra-putra Prabu Dewa Niskala kuwe ketemu, suasanane haru banget.

Nang jaba prajurit-prajurit Kadipaten sing wis padha mandan budeg ora krungu apa-apa, kabeh mung ngenteni nganti akhire Silihwarni lumpat metu sekang goa langsung nyamber salah siji sisa anjing pelacake, terus lumpat maning mlebu goa. Mandan suwe Silihwarni nang jero goa, akhire dheweke metu nggawa bungkusan sing isine getih karo hati, sementara anjing pelacake ora digawa metu. Getih karo hati kuwe ialah bukti sing dijaluk Adipati Pasir Luhur dong aweh prentah ming Silihwarni kon nggolet Raden Kamandaka.

Silihwarni langsung aweh prentah ming pasukane kon bali ming Kadipaten, sementara prajurit-prajurite padha mbatin ”Silihwarni kuwe sekti pisan, Kamandaka sing sektine kaya kuwe be bisa dikalahna, malah hatine dijukut getieh diperes, asu !”.

dilanjut nang crita legenda Lutung Kasarung
di ambil dari map-bms.wikipedia.org