24 Januari 2010

syekh jambu karang

Petilasan Syekh Jambukarang
Cikal bakal syiar Islam di Purbalingga

Image
Foto : Joko Santoso
LAYAKNYA makam-makam Wali Songo yang tersebar di Jawa, petilasan atau makam Syekh Jambukarang di Desa Penusupan, Kecamatan Rembang, juga layak menjadi tempat wisata ziarah. Petilasan yang juga disebut Ardilawet ini dikeramatkan oleh warga Purbalingga. Konon petilasan itu menjadi awal dan cikal bakal penyebaran dan syiar Islam di Kabupaten Purbalingga. Tak heran, masyarakat banyak yang mengunjungi untuk menyepi dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Mitos yang berkembang di masyarakat, berdoa di tempat ini akan cepat dikabulkan.

Sejumlah masyarakat dari dalam dan luar kota Purbalingga Banyak yang berkunjung dan berdoa untuk berbagai permohonan di perbukitan Ardilawet ini.

Untuk mencapai lokasi petilasan Ardilawet tidaklah sulit. Meski lokasinya jauh di pelosok desa, namun prasarana jalan menuju tempat itu sudah lumayan halus. Jika harus menggunakan kendaraan umum, lokasi ini berjarak sekitar 20 kilometer dari kota Purbalingga. Jika menumpang mikrobus jurusan Bobotsari-Rembang, hanya membutuhkan waktu sekitar 30-45 menit.

Sesampai di Monumen Panglima Besar Jenderal Soedirman, turun dan naiklah pikup ke Desa Penusupan dengan jarak tempuh sekitar 4 kilometer. Sesampai di Desa Penusupan, pengunjung harus berjalan kaki menempuh jalan setapak kurang lebih 3 kilometer untuk sampai di Gerbang Petilasan Ardi-lawet.

Konon, petilasan Ardilawet merupakan makam Syekh Jambukarang. Syekh Jambukarang ini merupakan putra dari Prabu Brawijaya Mahesa Trademan, Raja Pajajaran. Semasa kecil ia bernama Adipati Mendang (RMundingwangi). Sebenarnya, ia berhak menduduki tahta kerajaan menggantikan orang tuanya. Namun, Jambukarang lebih memilih menjadi pendeta. Tahta kerajaan diberikan kepada adiknya, R Mundingsari yang dinobatkan pada tahun 1190.

Cahaya
Saat bertapa di Jambudipa atau Gunung Karang, Banten, ia melihat ada tiga cahaya dari arah timur yang menjulang tinggi ke angkasa. Melihat hal itu, Jambukarang bersama para pengikutnya menuju cahaya terebut hingga sampailah di perbukitan Ardilawet itu dan mendirikan pertapaan di sana.

Secara bersamaan, Syekh Atas Angin dari Negara Arab dan telah berkelana menyebarkan Islam di Purbalingga juga melihat adanya cahaya yang sama dari arah timur. Cahaya itu terlihat jelas sesaat setelah ia melaksanakan shalat Subuh.

Singkat cerita, Syekh Atas Angin juga menuju ke perbukitan Ardilawet. Di sana, ia berjumpa dengan Jambukarang yang sedang bertapa. Uluk salam disampaikan oleh Syekh Atas Angin kepada Jambukarang. Namun, Jambukarang tak menyahutnya.

Tak lama kemudian, Jambukarang terlibat perdebatan dengan Syekh Atas Angin.. Mereka juga terlibat adu kesaktian. Namun, Syekh Atas Angin memiliki kesaktian yang lebih tinggi sehingga Jambukarang tunduk dan memeluk Islam. Saat itu, Jambukarang mencukur rambut dan kukunya dan dikuburkan di Ardilawet.

Selain mengangkat Syekh Atas Angin menjadi gurunya, Pangeran Wali Syekh Jambukarang juga menikahkan putrinya yang bernama Rubiah Bekti menjadi istri Syekh Atas Angin. Setelah memeluk Islam, Syekh Jambukarang aktif menyebarluaskan ajaran Islam di wilayah Purbalingga.

Perkawinan antara Syekh Atas Angin dan Rubiah Bekti menurunkan lima orang anak masing-masing, Machdum Kusen, Machdum Medem, Machdum Umar, Nyi Rubiah Raja dan Nyi Rubiyah Sekar. Putra pertama, Machdum Khusen menurunkan tiga ptra yaitu Machdum Jamil, Lebe Tuleng, dan Lebe Shultoni.

Machdum Jamil ini menurunkan empat putra yaitu Machdum Tores, Lebe Kudra, Lebe Majapan dan Pangeran Wali Prakosa. Pangeran Wali Prakosa inilah yang ikut serta mendirikan tiang Masjid Demak bersama Walisongo. Setelah wafat, Wali Prakosa ini dimakamkan di Desa Pekiringan, Kecamatan Karangmoncol.
www.wawasandigital.com

Tidak ada komentar: