Masjid Jami’ Wali Perkasa
Tiangnya bertuliskan huruf Ibrani
DESA Pekiringan, Karangmoncol, Purbalingga memiliki nuansa religi dengan masjid tua peninggalan Wali Perkasa. Masjid yang diperkirakan usianya hampir sama dengan Masjid Agung Demak itu dibangun pada tahun 1420, sebagai ajang syi"ar agama Islam di tlatah Purbalingga bagian timur laut.
Lokasi masjid berada sekitar 400 meter dari Kantor Kecamatan Karangmoncol, atau sekitar 10 kilometer dari Kota Purbalingga.
Masjid Jami" Wali Perkasa berdiri megah dengan arsitektur interior yang asli. Keempat tiang penyangganya mirip tiang penyangga Masjid Agung Demak. Imam Besar masjid tersebut, H Sahlan Musodik SPd (50) mengatakan, masjid dengan kapasitas 600 jamaah ini setiap harinya selalu ramai dikunjungi orang dari luar daerah, seperti Jakarta, Jawa Barat, dan lainnya.
Rata-rata mereka berniat untuk lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dengan menenangkan diri di Masjid Wali Perkasa ini. Dilihat dari segi budaya, mereka sangat tertarik dan penasaran dengan salah satu tiang masjid yang bertuliskan huruf Ibrani ratusan tahun silam.
"Banyak yang mencoba mengabadikan (memotret, red) tulisan Ibrani tersebut, namun tidak pernah jadi," ujar Sahlan.
Di belakang masjid nampak teratur bangunan Madrasah Diniyah dengan 261 siswa yang rutin menggunakan masjid sebagai sarana amaliah Ramadan. Mulai dari membaca Alquran hingga berbuka dan sahur bersama. Selain itu, hingga saat ini jamaah masih membludak memadati masjid tersebut.
Bersama Wali Songo
Menurut penulis buku Babad Purbalingga, Triatmo (61), sebenarnya pendiri masjid yaitu Wali Perkasa, dalam sejarahnya masih terkait dengan Onje yang samasama mempunyai masjid tua Onje. Leluhurnya adalah salah satu tokoh penyebar agam Islam di Onje, yaitu Raden Liman Sujana alias Syekh Jambukarang yang hingga saat ini petilasannya di Rembang ramai dijadikan tempat ziarah. Diriwayatkan, sewaktu Masjid Agung Demak berdiri, bangunannya masih miring dan belum menghadap kiblat. Oleh Wali Perkasa atau bernama asli Mahdum beserta para Wali Songo, arah masjid dihadapkan ke kiblat, walaupun bangunan sudah jadi. "Sampai saat ini salah satu tiang di Masjid Wali Perkasa sama bentuknya dengan tiang di Masjid Agung Demak. Karena ikut menegakkan tiang masjid yang miring di Demak, Wali Songo menganugerahkan sebutan nama Wali Perkasa," terang Atmo.
Setelah ikut mendirikan Masjid Agung Demak, Wali Perkasa membangun masjid di Pekiringan, Karangmoncol yang telah mengalami renovasi terakhir tahun 2002 lalu. Sampai saat ini warga sekitar masih meyakini bahwa masjid tersebut berusia hampir sama dengan masjid agung Demak. Menurut rencana dalam waktu dekat masjid tersebut akan direnovasi lagi. Joko Santoso-Tj
wawasandigital.com
24 Januari 2010
syekh jambu karang
Petilasan Syekh Jambukarang
Cikal bakal syiar Islam di Purbalingga
Image
Foto : Joko Santoso
LAYAKNYA makam-makam Wali Songo yang tersebar di Jawa, petilasan atau makam Syekh Jambukarang di Desa Penusupan, Kecamatan Rembang, juga layak menjadi tempat wisata ziarah. Petilasan yang juga disebut Ardilawet ini dikeramatkan oleh warga Purbalingga. Konon petilasan itu menjadi awal dan cikal bakal penyebaran dan syiar Islam di Kabupaten Purbalingga. Tak heran, masyarakat banyak yang mengunjungi untuk menyepi dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Mitos yang berkembang di masyarakat, berdoa di tempat ini akan cepat dikabulkan.
Sejumlah masyarakat dari dalam dan luar kota Purbalingga Banyak yang berkunjung dan berdoa untuk berbagai permohonan di perbukitan Ardilawet ini.
Untuk mencapai lokasi petilasan Ardilawet tidaklah sulit. Meski lokasinya jauh di pelosok desa, namun prasarana jalan menuju tempat itu sudah lumayan halus. Jika harus menggunakan kendaraan umum, lokasi ini berjarak sekitar 20 kilometer dari kota Purbalingga. Jika menumpang mikrobus jurusan Bobotsari-Rembang, hanya membutuhkan waktu sekitar 30-45 menit.
Sesampai di Monumen Panglima Besar Jenderal Soedirman, turun dan naiklah pikup ke Desa Penusupan dengan jarak tempuh sekitar 4 kilometer. Sesampai di Desa Penusupan, pengunjung harus berjalan kaki menempuh jalan setapak kurang lebih 3 kilometer untuk sampai di Gerbang Petilasan Ardi-lawet.
Konon, petilasan Ardilawet merupakan makam Syekh Jambukarang. Syekh Jambukarang ini merupakan putra dari Prabu Brawijaya Mahesa Trademan, Raja Pajajaran. Semasa kecil ia bernama Adipati Mendang (RMundingwangi). Sebenarnya, ia berhak menduduki tahta kerajaan menggantikan orang tuanya. Namun, Jambukarang lebih memilih menjadi pendeta. Tahta kerajaan diberikan kepada adiknya, R Mundingsari yang dinobatkan pada tahun 1190.
Cahaya
Saat bertapa di Jambudipa atau Gunung Karang, Banten, ia melihat ada tiga cahaya dari arah timur yang menjulang tinggi ke angkasa. Melihat hal itu, Jambukarang bersama para pengikutnya menuju cahaya terebut hingga sampailah di perbukitan Ardilawet itu dan mendirikan pertapaan di sana.
Secara bersamaan, Syekh Atas Angin dari Negara Arab dan telah berkelana menyebarkan Islam di Purbalingga juga melihat adanya cahaya yang sama dari arah timur. Cahaya itu terlihat jelas sesaat setelah ia melaksanakan shalat Subuh.
Singkat cerita, Syekh Atas Angin juga menuju ke perbukitan Ardilawet. Di sana, ia berjumpa dengan Jambukarang yang sedang bertapa. Uluk salam disampaikan oleh Syekh Atas Angin kepada Jambukarang. Namun, Jambukarang tak menyahutnya.
Tak lama kemudian, Jambukarang terlibat perdebatan dengan Syekh Atas Angin.. Mereka juga terlibat adu kesaktian. Namun, Syekh Atas Angin memiliki kesaktian yang lebih tinggi sehingga Jambukarang tunduk dan memeluk Islam. Saat itu, Jambukarang mencukur rambut dan kukunya dan dikuburkan di Ardilawet.
Selain mengangkat Syekh Atas Angin menjadi gurunya, Pangeran Wali Syekh Jambukarang juga menikahkan putrinya yang bernama Rubiah Bekti menjadi istri Syekh Atas Angin. Setelah memeluk Islam, Syekh Jambukarang aktif menyebarluaskan ajaran Islam di wilayah Purbalingga.
Perkawinan antara Syekh Atas Angin dan Rubiah Bekti menurunkan lima orang anak masing-masing, Machdum Kusen, Machdum Medem, Machdum Umar, Nyi Rubiah Raja dan Nyi Rubiyah Sekar. Putra pertama, Machdum Khusen menurunkan tiga ptra yaitu Machdum Jamil, Lebe Tuleng, dan Lebe Shultoni.
Machdum Jamil ini menurunkan empat putra yaitu Machdum Tores, Lebe Kudra, Lebe Majapan dan Pangeran Wali Prakosa. Pangeran Wali Prakosa inilah yang ikut serta mendirikan tiang Masjid Demak bersama Walisongo. Setelah wafat, Wali Prakosa ini dimakamkan di Desa Pekiringan, Kecamatan Karangmoncol.
www.wawasandigital.com
Cikal bakal syiar Islam di Purbalingga
Image
Foto : Joko Santoso
LAYAKNYA makam-makam Wali Songo yang tersebar di Jawa, petilasan atau makam Syekh Jambukarang di Desa Penusupan, Kecamatan Rembang, juga layak menjadi tempat wisata ziarah. Petilasan yang juga disebut Ardilawet ini dikeramatkan oleh warga Purbalingga. Konon petilasan itu menjadi awal dan cikal bakal penyebaran dan syiar Islam di Kabupaten Purbalingga. Tak heran, masyarakat banyak yang mengunjungi untuk menyepi dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Mitos yang berkembang di masyarakat, berdoa di tempat ini akan cepat dikabulkan.
Sejumlah masyarakat dari dalam dan luar kota Purbalingga Banyak yang berkunjung dan berdoa untuk berbagai permohonan di perbukitan Ardilawet ini.
Untuk mencapai lokasi petilasan Ardilawet tidaklah sulit. Meski lokasinya jauh di pelosok desa, namun prasarana jalan menuju tempat itu sudah lumayan halus. Jika harus menggunakan kendaraan umum, lokasi ini berjarak sekitar 20 kilometer dari kota Purbalingga. Jika menumpang mikrobus jurusan Bobotsari-Rembang, hanya membutuhkan waktu sekitar 30-45 menit.
Sesampai di Monumen Panglima Besar Jenderal Soedirman, turun dan naiklah pikup ke Desa Penusupan dengan jarak tempuh sekitar 4 kilometer. Sesampai di Desa Penusupan, pengunjung harus berjalan kaki menempuh jalan setapak kurang lebih 3 kilometer untuk sampai di Gerbang Petilasan Ardi-lawet.
Konon, petilasan Ardilawet merupakan makam Syekh Jambukarang. Syekh Jambukarang ini merupakan putra dari Prabu Brawijaya Mahesa Trademan, Raja Pajajaran. Semasa kecil ia bernama Adipati Mendang (RMundingwangi). Sebenarnya, ia berhak menduduki tahta kerajaan menggantikan orang tuanya. Namun, Jambukarang lebih memilih menjadi pendeta. Tahta kerajaan diberikan kepada adiknya, R Mundingsari yang dinobatkan pada tahun 1190.
Cahaya
Saat bertapa di Jambudipa atau Gunung Karang, Banten, ia melihat ada tiga cahaya dari arah timur yang menjulang tinggi ke angkasa. Melihat hal itu, Jambukarang bersama para pengikutnya menuju cahaya terebut hingga sampailah di perbukitan Ardilawet itu dan mendirikan pertapaan di sana.
Secara bersamaan, Syekh Atas Angin dari Negara Arab dan telah berkelana menyebarkan Islam di Purbalingga juga melihat adanya cahaya yang sama dari arah timur. Cahaya itu terlihat jelas sesaat setelah ia melaksanakan shalat Subuh.
Singkat cerita, Syekh Atas Angin juga menuju ke perbukitan Ardilawet. Di sana, ia berjumpa dengan Jambukarang yang sedang bertapa. Uluk salam disampaikan oleh Syekh Atas Angin kepada Jambukarang. Namun, Jambukarang tak menyahutnya.
Tak lama kemudian, Jambukarang terlibat perdebatan dengan Syekh Atas Angin.. Mereka juga terlibat adu kesaktian. Namun, Syekh Atas Angin memiliki kesaktian yang lebih tinggi sehingga Jambukarang tunduk dan memeluk Islam. Saat itu, Jambukarang mencukur rambut dan kukunya dan dikuburkan di Ardilawet.
Selain mengangkat Syekh Atas Angin menjadi gurunya, Pangeran Wali Syekh Jambukarang juga menikahkan putrinya yang bernama Rubiah Bekti menjadi istri Syekh Atas Angin. Setelah memeluk Islam, Syekh Jambukarang aktif menyebarluaskan ajaran Islam di wilayah Purbalingga.
Perkawinan antara Syekh Atas Angin dan Rubiah Bekti menurunkan lima orang anak masing-masing, Machdum Kusen, Machdum Medem, Machdum Umar, Nyi Rubiah Raja dan Nyi Rubiyah Sekar. Putra pertama, Machdum Khusen menurunkan tiga ptra yaitu Machdum Jamil, Lebe Tuleng, dan Lebe Shultoni.
Machdum Jamil ini menurunkan empat putra yaitu Machdum Tores, Lebe Kudra, Lebe Majapan dan Pangeran Wali Prakosa. Pangeran Wali Prakosa inilah yang ikut serta mendirikan tiang Masjid Demak bersama Walisongo. Setelah wafat, Wali Prakosa ini dimakamkan di Desa Pekiringan, Kecamatan Karangmoncol.
www.wawasandigital.com
Label:
purbalingga
Desa Wisata
Desa wisata Karang Banjar Purbalingga PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Mutiara
Rabu, 15 Juli 2009 14:14
Musik Tradisional
Musik Tradisional
Di Purbalingga, tepatnya di Desa Wisata Karang Banjar merupakan salah satu tujuan wisata yang sering dikunjungi wisatawan, baik lokal maupun manca negara. Letaknya juga sangat strategis, karena tepat sejalur dengan obyek wisata andalan lainnya seperti Owabong, Taman , Taman Buah dan Museum Uang.
Di desa Wisata Karang Banjar ini, pengunjung dapat melihat secara langsung ke home industri proses pembuatan rambut palsu, bulu mata palsu, sapu lidi, sapu ijuk, sanggul.
Ada juga fasilitas ‘homestay’ di rumah penduduk dengan biaya yang sangat terjangkau. Suasana pesedaan yang sejuk, makanan khas daerah setempat, penduduk yang ramah membuat suasana yang semakin nyaman.
Jika ingin mengunjungi desa wisata ini, kita dapat mengambil paket wisata ataupun berkunjung langsung ke sana.
Paket Wisata yang tersedia antara lain :
Home industri pembuatan wig
Membuat wig
Penyambutan Tamu di Gedung Pertemuan Desa Wisata Karang Banjar, sambil menikmati sajian makanan tradisional seperti mendoan, kacang rebus, jagung rebus kita dapat menyaksikan pertunjukan tradisional khas Purbalingga, yang dimainkan oleh para penduduk desa tersebut. Setelah itu menuju homestay, menuju ke lokasi pembuatan rambut palsu, sanggul, sapu. Lalu hari berikutnya berkunjung ke Taman Reptil, Museum Uang, Taman Buah sambil berolahraga pagi.
Jika anda ingin liburan yang berbeda dengan lainnya, paket wisata ini sangat menarik bagi anda, karena selain menikmati liburan, banyak unsur edukatif yang bisa diperoleh anak-anak dan biayanyapun terjangkau (tidak harus menginap di hotel).
www.inyonge.com
Ditulis oleh Mutiara
Rabu, 15 Juli 2009 14:14
Musik Tradisional
Musik Tradisional
Di Purbalingga, tepatnya di Desa Wisata Karang Banjar merupakan salah satu tujuan wisata yang sering dikunjungi wisatawan, baik lokal maupun manca negara. Letaknya juga sangat strategis, karena tepat sejalur dengan obyek wisata andalan lainnya seperti Owabong, Taman , Taman Buah dan Museum Uang.
Di desa Wisata Karang Banjar ini, pengunjung dapat melihat secara langsung ke home industri proses pembuatan rambut palsu, bulu mata palsu, sapu lidi, sapu ijuk, sanggul.
Ada juga fasilitas ‘homestay’ di rumah penduduk dengan biaya yang sangat terjangkau. Suasana pesedaan yang sejuk, makanan khas daerah setempat, penduduk yang ramah membuat suasana yang semakin nyaman.
Jika ingin mengunjungi desa wisata ini, kita dapat mengambil paket wisata ataupun berkunjung langsung ke sana.
Paket Wisata yang tersedia antara lain :
Home industri pembuatan wig
Membuat wig
Penyambutan Tamu di Gedung Pertemuan Desa Wisata Karang Banjar, sambil menikmati sajian makanan tradisional seperti mendoan, kacang rebus, jagung rebus kita dapat menyaksikan pertunjukan tradisional khas Purbalingga, yang dimainkan oleh para penduduk desa tersebut. Setelah itu menuju homestay, menuju ke lokasi pembuatan rambut palsu, sanggul, sapu. Lalu hari berikutnya berkunjung ke Taman Reptil, Museum Uang, Taman Buah sambil berolahraga pagi.
Jika anda ingin liburan yang berbeda dengan lainnya, paket wisata ini sangat menarik bagi anda, karena selain menikmati liburan, banyak unsur edukatif yang bisa diperoleh anak-anak dan biayanyapun terjangkau (tidak harus menginap di hotel).
www.inyonge.com
owabong
Owabong, Wisata Air Unggulan Purbalingga Print E-mail
Sabtu, 15 September 2007
Purbalingga (Kedaultan Rakyat). Ke Purbalingga, tidak mampir ke Owabong, rugi besar !" kata Siti Solikah, penduduk setempat yang juga bekerja di Puskesmas Padamara Purbalingga mengingatkan KR. Memang di celah kunjungan KKN Rektor ISI Yogyakarta, Soeprapto Soedjono PhD di Purbalingga ada rencana 'mencicipi' Owabong. Kunjungan saat itu memang istimewa diantar langsung oleh Bupati Purbalingga Drs Triyono Budi Sasongko MSi. "Nanti, kalau waktu memungkinkan, setelah di Kecamatan Padamara dan Karangbanjar, saya antar khusus mampir di Owabong," ucap Triyono spontan.
Benar, di celah waktu yang sebenarnya sangat sempit, Buputi Purbalingga Triyono mengajak berkeliling di Owabong. Ternyata Owabong itu padanan kata Objek Wisata Air Bojongsari, terletak di Jalan Raya Owabong 1, Bojongsari Purbalingga. "Kalau disingkat Owabong, kesannya keren dan bergengsi," kata Triyono. Dikatakan Triyono, Owabong diresmikan Gubernur Jawa Tengah, H Mardiyanto, Jumat, 18 Maret 2005 tersebut, kini memang menjadi wisata air unggulan di Purbalingga. Hampir semua pejabat penting ke Purbalingga selalu diajak mampir sebentar di Owabong. "Saya punya kewajiban untuk memperkenalkan diri potensi Purbalingga," tandasnya.
Menurut pemahaman Triyono, Purbalingga itu kabupaten yang kecil. Luas wilayah Purbalingga 77.764 hektar, setara 2,39 persen dari luas Propinsi Jawa Tengah. Terdiri dari 18 wilayah kecamatan, 224 desa dan 15 kelurahan. Secara geografi dan administratif, Purbalingga berbatasan dengan wilayah Kabupaten Pemalang di sebelah utara, wilayah Kabupaten Banjarnegara di sebelah timur, wilayah Banyumas di sebelah selatan dan barat. Jarak tempuh menuju Purbalingga dari Semarang sebagai ibukota propinsi Jawa Tengah berkisar 180 km, waktu tempuh sekitar 4 jam.
Diakui, meski sebagai kabupaten yang kecil, tetapi memiliki daya tarik dan keunikan tersendiri. "Banyak orang datang sekali ke Purbalingga ingin berkunjung lagi," kata Triyono. Daya tarik itu, selain potensi wisata, seni, budaya yang memang eksotik untuk dikunjungi. "Owabong, salah satunya yang kini banyak orang menjadi penasaran," tambahnya. Benarkan Hartanto, pengelola Owabong yang menemani bupati, wisata dari luar kota banyak mengalir ke objek wisata Owabong. "Bahkan pengunjung dari Solo, Semarang, Jakarta karena Owabong punya fasilitas VIP Cottage, Family Cottage akhirnya menginap di sini," kata Hartanto. Owabong memiliki beragam fasilitas permainan air, antara lain, see saw (jungkat-jungkit air, callage water slide (undak-undakan Spayolan), baban boat, sepeda air, kayak, water boom, pesta air, kolam arus, ember tumpah.
Soeprapto Soedjono PhD, Rektor ISI Yogya mengatakan, meski telah menjadi tempat wisata unggulan, pengelolaan, pemeliharaan dan kenyamanan perlu dijaga. "Tak ketinggalan, jangan lupa sentuhan seni, kalau perlu di pintu masuk ada atraksi kesenian tradisi khas Purbalingga." tandasnya. (Jay)-
Sabtu, 15 September 2007
Purbalingga (Kedaultan Rakyat). Ke Purbalingga, tidak mampir ke Owabong, rugi besar !" kata Siti Solikah, penduduk setempat yang juga bekerja di Puskesmas Padamara Purbalingga mengingatkan KR. Memang di celah kunjungan KKN Rektor ISI Yogyakarta, Soeprapto Soedjono PhD di Purbalingga ada rencana 'mencicipi' Owabong. Kunjungan saat itu memang istimewa diantar langsung oleh Bupati Purbalingga Drs Triyono Budi Sasongko MSi. "Nanti, kalau waktu memungkinkan, setelah di Kecamatan Padamara dan Karangbanjar, saya antar khusus mampir di Owabong," ucap Triyono spontan.
Benar, di celah waktu yang sebenarnya sangat sempit, Buputi Purbalingga Triyono mengajak berkeliling di Owabong. Ternyata Owabong itu padanan kata Objek Wisata Air Bojongsari, terletak di Jalan Raya Owabong 1, Bojongsari Purbalingga. "Kalau disingkat Owabong, kesannya keren dan bergengsi," kata Triyono. Dikatakan Triyono, Owabong diresmikan Gubernur Jawa Tengah, H Mardiyanto, Jumat, 18 Maret 2005 tersebut, kini memang menjadi wisata air unggulan di Purbalingga. Hampir semua pejabat penting ke Purbalingga selalu diajak mampir sebentar di Owabong. "Saya punya kewajiban untuk memperkenalkan diri potensi Purbalingga," tandasnya.
Menurut pemahaman Triyono, Purbalingga itu kabupaten yang kecil. Luas wilayah Purbalingga 77.764 hektar, setara 2,39 persen dari luas Propinsi Jawa Tengah. Terdiri dari 18 wilayah kecamatan, 224 desa dan 15 kelurahan. Secara geografi dan administratif, Purbalingga berbatasan dengan wilayah Kabupaten Pemalang di sebelah utara, wilayah Kabupaten Banjarnegara di sebelah timur, wilayah Banyumas di sebelah selatan dan barat. Jarak tempuh menuju Purbalingga dari Semarang sebagai ibukota propinsi Jawa Tengah berkisar 180 km, waktu tempuh sekitar 4 jam.
Diakui, meski sebagai kabupaten yang kecil, tetapi memiliki daya tarik dan keunikan tersendiri. "Banyak orang datang sekali ke Purbalingga ingin berkunjung lagi," kata Triyono. Daya tarik itu, selain potensi wisata, seni, budaya yang memang eksotik untuk dikunjungi. "Owabong, salah satunya yang kini banyak orang menjadi penasaran," tambahnya. Benarkan Hartanto, pengelola Owabong yang menemani bupati, wisata dari luar kota banyak mengalir ke objek wisata Owabong. "Bahkan pengunjung dari Solo, Semarang, Jakarta karena Owabong punya fasilitas VIP Cottage, Family Cottage akhirnya menginap di sini," kata Hartanto. Owabong memiliki beragam fasilitas permainan air, antara lain, see saw (jungkat-jungkit air, callage water slide (undak-undakan Spayolan), baban boat, sepeda air, kayak, water boom, pesta air, kolam arus, ember tumpah.
Soeprapto Soedjono PhD, Rektor ISI Yogya mengatakan, meski telah menjadi tempat wisata unggulan, pengelolaan, pemeliharaan dan kenyamanan perlu dijaga. "Tak ketinggalan, jangan lupa sentuhan seni, kalau perlu di pintu masuk ada atraksi kesenian tradisi khas Purbalingga." tandasnya. (Jay)-
Label:
wisata purbalingga
Purbalingga
Geografi
Purbalingga berada di cekungan yang diapit beberapa rangkaian pegunungan. Di sebelah utara merupakan rangkaian pegunungan (Gunung Slamet dan Dataran Tinggi Dieng). Bagian selatan merupakan Depresi Serayu, yang dialiri dua sungai besar Kali Serayu dan anak sungainya, Kali Pekacangan. Ibukota Kabupaten Purbalingga berada di bagian barat wilayah kabupaten, sekitar 21 km sebelah timur Purwokerto.
[sunting] Pembagian administratif
Kabupaten Purbalingga terdiri atas 18 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah desa dan kelurahan. Pusat pemerintahan berada di Kecamatan Purbalingga.
[sunting] Industri
Di Purbalingga ada banyak industri dengan bahan baku rambut manusia untuk dijadikan bulu mata palsu (eye-lash) atau juga dibuat "wig" atau rambut palsu serta sanggul maupun hair piece yang dipasang untuk memberikan tambahan rambut atau juga high-light secara temporer di rambut kita. Keistimewaan lain adalah industri knalpot yang merupakan transformasi dari industri kuali dan panci tembaga. Knalpot Braling cukup terkenal di kalangan pemilik mobil, sbg alternatif suku cadang murah.
[sunting] Pariwisata
Wisata alam yang terdapat di kabupaten ini adalah 'Gua Lawa' yang terletak di Kecamatan Karangreja, 25 km sebelah utara Purbalingga. Obyek wisata lainnya adalah Desa Wisata Karangbanjar, yakni permukiman tradisional yang juga terdapat kerajinan rumah tangga; dan Monumen Jenderal Soedirman di Kecamatan Rembang.
Objek wisata air Bojongsari (Owabong) juga merupakan objek wisata favorit. Saat ini ada banyak arena bermain yang melengkapi Owabong ini. Di samping kolam renang juga ada kolam arus, arena go-kart, water boom, arung jeram, permainan air dan sebagainya. Benar-benar suatu tempat yang layak kunjung.
Pendakian Gunung Slamet dapat dimulai dari Pos Bambangan, Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja. Rute ini termasuk rute paling populer.
[sunting] Kuliner
Makanan yang paling dikenal di Purbalingga adalah "mendoan"; ini adalah makanan yang dibuat dari tempe kedele. Istimewanya, pembuatan mendoan diproses mulai dari saat membuat tempenya; jadi mendoan tak bisa dibuat dari sembarang tempe. Tempe mendoan adalah tempe tipis yang dibuat melebar/meluas. Untuk membuat mendoan, tempe ini di beri tepung yang dibumbu garam, ketumbar dan daun bawang. Digoreng sebentar sehingga masih terasa lunak, bila digoreng agak lama akan menjadi tempe "muledi" yang sedikit agak liat. Lebih lama lagi sampai kering maka disebut tempe "keripik".
Purbalingga juga dikenal sebagai tempat pabrik Slamet, yang memproduksi permen "Davos" sejak tahun 1931, permen ini sangat dikenal sejak zaman dulu. Sroto (di Purbalingga, soto disebut sroto, entah kenapa) juga terkenal, terutama soto kriyiknya. Di sini setelah daging ayam disuwir untuk sroto maka "rongkong"nya (tulang dada)digoreng kering dan disajikan sebagai lauk sroto. Rasanya garing dan kriyik-kriyik, itu sebabnya disebut sroto kriyik. Rasanya, wah ok punya. Ada lagi, makanan camilan yang disebut nopia, asalnya juga dari Purbalingga, sekitar tahun 50 an keluarga Ting Lie Liang memulai usaha bikin penganan nopia yang juga disebut telor gajah. Bantuknya putih dari tepung terigu berisi gula jawa. Sekarang nopia yang lebih dikenal adalah buatan pak Narwan dari Banyumas. Pak Narwan ini adalah mantan karyawan dari pabrik nopia original di Puirbalingga.
[sunting] Tokoh terkenal
* Jenderal Soedirman, jenderal besar pertama di Indonesia. Legenda dalam dunia militer Indonesia, pakar perang gerilya dan terkenal gigih dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
di ambil dari wikipedia.org
Purbalingga berada di cekungan yang diapit beberapa rangkaian pegunungan. Di sebelah utara merupakan rangkaian pegunungan (Gunung Slamet dan Dataran Tinggi Dieng). Bagian selatan merupakan Depresi Serayu, yang dialiri dua sungai besar Kali Serayu dan anak sungainya, Kali Pekacangan. Ibukota Kabupaten Purbalingga berada di bagian barat wilayah kabupaten, sekitar 21 km sebelah timur Purwokerto.
[sunting] Pembagian administratif
Kabupaten Purbalingga terdiri atas 18 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah desa dan kelurahan. Pusat pemerintahan berada di Kecamatan Purbalingga.
[sunting] Industri
Di Purbalingga ada banyak industri dengan bahan baku rambut manusia untuk dijadikan bulu mata palsu (eye-lash) atau juga dibuat "wig" atau rambut palsu serta sanggul maupun hair piece yang dipasang untuk memberikan tambahan rambut atau juga high-light secara temporer di rambut kita. Keistimewaan lain adalah industri knalpot yang merupakan transformasi dari industri kuali dan panci tembaga. Knalpot Braling cukup terkenal di kalangan pemilik mobil, sbg alternatif suku cadang murah.
[sunting] Pariwisata
Wisata alam yang terdapat di kabupaten ini adalah 'Gua Lawa' yang terletak di Kecamatan Karangreja, 25 km sebelah utara Purbalingga. Obyek wisata lainnya adalah Desa Wisata Karangbanjar, yakni permukiman tradisional yang juga terdapat kerajinan rumah tangga; dan Monumen Jenderal Soedirman di Kecamatan Rembang.
Objek wisata air Bojongsari (Owabong) juga merupakan objek wisata favorit. Saat ini ada banyak arena bermain yang melengkapi Owabong ini. Di samping kolam renang juga ada kolam arus, arena go-kart, water boom, arung jeram, permainan air dan sebagainya. Benar-benar suatu tempat yang layak kunjung.
Pendakian Gunung Slamet dapat dimulai dari Pos Bambangan, Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja. Rute ini termasuk rute paling populer.
[sunting] Kuliner
Makanan yang paling dikenal di Purbalingga adalah "mendoan"; ini adalah makanan yang dibuat dari tempe kedele. Istimewanya, pembuatan mendoan diproses mulai dari saat membuat tempenya; jadi mendoan tak bisa dibuat dari sembarang tempe. Tempe mendoan adalah tempe tipis yang dibuat melebar/meluas. Untuk membuat mendoan, tempe ini di beri tepung yang dibumbu garam, ketumbar dan daun bawang. Digoreng sebentar sehingga masih terasa lunak, bila digoreng agak lama akan menjadi tempe "muledi" yang sedikit agak liat. Lebih lama lagi sampai kering maka disebut tempe "keripik".
Purbalingga juga dikenal sebagai tempat pabrik Slamet, yang memproduksi permen "Davos" sejak tahun 1931, permen ini sangat dikenal sejak zaman dulu. Sroto (di Purbalingga, soto disebut sroto, entah kenapa) juga terkenal, terutama soto kriyiknya. Di sini setelah daging ayam disuwir untuk sroto maka "rongkong"nya (tulang dada)digoreng kering dan disajikan sebagai lauk sroto. Rasanya garing dan kriyik-kriyik, itu sebabnya disebut sroto kriyik. Rasanya, wah ok punya. Ada lagi, makanan camilan yang disebut nopia, asalnya juga dari Purbalingga, sekitar tahun 50 an keluarga Ting Lie Liang memulai usaha bikin penganan nopia yang juga disebut telor gajah. Bantuknya putih dari tepung terigu berisi gula jawa. Sekarang nopia yang lebih dikenal adalah buatan pak Narwan dari Banyumas. Pak Narwan ini adalah mantan karyawan dari pabrik nopia original di Puirbalingga.
[sunting] Tokoh terkenal
* Jenderal Soedirman, jenderal besar pertama di Indonesia. Legenda dalam dunia militer Indonesia, pakar perang gerilya dan terkenal gigih dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
di ambil dari wikipedia.org
Label:
purbalingga
Langganan:
Postingan (Atom)